Vibe Coding: Daya Tarik dan Jebakannya
"Vibe coding" adalah istilah yang dipopulerkan untuk menggambarkan cara kerja baru: deskripsikan apa yang kamu mau, biarkan AI generate, jalankan, lihat apakah berhasil, iterate. Tidak banyak baca kode yang dihasilkan. Tidak banyak review detail.
Hasilnya? Kecepatan yang luar biasa — di awal.
Masalahnya muncul setelah 2-3 minggu. Kamu punya codebase yang bekerja (mungkin), tapi kamu tidak terlalu paham mengapa. Setiap perubahan baru berpotensi merusak sesuatu yang tidak terduga. Bug yang seharusnya trivial butuh berjam-jam untuk debug karena tidak ada pegangan.
Ini adalah "velocity debt" — versi teknis dari hutang yang nampak tidak masalah sampai tiba-tiba harus dibayar sekaligus.
TDD Sebagai Jaring Pengaman
Test-Driven Development dalam konteks AI-augmented development bukan tentang menulis setiap unit test secara manual. Ini tentang:
1. Mendefinisikan kontrak perilaku sebelum implementation
Sebelum meminta AI menulis kode, tuliskan dulu — atau minta AI tuliskan — test yang mendefinisikan apa yang seharusnya terjadi. Ini memaksa kamu untuk berpikir tentang edge cases dan expected behavior sebelum terjebak dalam detail implementasi.
2. Verifikasi otomatis bahwa output AI sesuai ekspektasi
Ketika AI menghasilkan implementasi, test yang sudah ada langsung memverifikasi apakah hasilnya benar. Tidak perlu "coba jalankan dan lihat" secara manual untuk setiap skenario.
3. Confidence untuk refactor dan iterate cepat
Ini yang paling valuable. Dengan test suite yang solid, kamu bisa minta AI refactor atau optimasi kode lama tanpa takut merusak fungsionalitas yang sudah ada. Green test = aman untuk deploy.
Workflow TDD + AI yang Kami Gunakan
Dalam sprint kami, prosesnya biasanya seperti ini:
1. Define acceptance criteria — Tulis user story dan expected behavior dalam bahasa plain
2. Generate test scenarios — Minta AI menulis test cases berdasarkan acceptance criteria
3. Review dan approve tests — Developer review: apakah test ini benar-benar menangkap yang kita mau?
4. Implement against tests — Minta AI generate implementasi yang membuat tests pass
5. Review implementasi — Developer review kode yang dihasilkan, terutama untuk security dan architecture concerns
6. Iterate — Jika ada yang kurang, tambah test, iterate
Langkah 3 dan 5 adalah di mana developer expertise paling dibutuhkan. AI sangat baik dalam generate kode; manusia jauh lebih baik dalam mengevaluasi apakah kode itu *benar* untuk konteks spesifik.
Test Apa yang Paling Valuable?
Tidak semua test sama pentingnya. Dalam konteks AI-augmented development, prioritas kami:
- Integration tests: Verifikasi bahwa komponen bekerja bersama. Ini yang paling sering "menemukan" bug yang dihasilkan AI.
- Happy path E2E tests: Pastikan user journey utama bekerja dari ujung ke ujung.
- Boundary/edge case unit tests: Untuk logic bisnis kritikal.
Unit test yang hanya test satu fungsi trivial? Biarkan AI generate otomatis, tapi jangan jadikan prioritas.
Kesimpulan
Vibe coding cepat. TDD solid. Kombinasi keduanya — generate cepat dengan AI, verifikasi dengan test yang bermakna — adalah cara kerja yang kami yakini: bergerak cepat tanpa merusak sesuatu.
Di era di mana AI bisa generate ratusan baris kode dalam hitungan detik, kemampuan manusia untuk mendefinisikan "benar" menjadi lebih berharga dari kemampuan untuk menulis kode secara manual.
Ahmad Muhyidin
Founder & Lead Developer, Idin Studio
← Sebelumnya
Agentic Coding: Paradigma Baru Membangun Software di 2025
Berikutnya →
Workflow Kami: Bagaimana Idin Studio Mengintegrasikan AI dalam Setiap Sprint
Tertarik membangun produk dengan AI-augmented workflow?
Kami gunakan pendekatan ini di setiap project klien.
Diskusi Project Kamu